BANDA ACEH — Di tengah gemerlap zaman yang kian cepat berputar, tatkala layar gawai menjadi kiblat baru bagi anak-anak muda, angin sejuk berhembus dari Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Dentuman sejarah peradaban Islam kembali berdenyut melalui penyelenggaraan Muzakarah Ulama Sufi Tauhid Tasawuf Internasional ke-II.
Gelaran akbar ini bukan sekadar pertemuan ilmiah para pemuka agama, melainkan sebuah simfoni batin yang menggetarkan jiwa, menyatukan nostalgia masa lalu, titah para raja, ketulusan para guru, hingga harapan besar bagi masa depan Generasi Z.
Menghidupkan Kembali Denyut Peradaban Aceh
Bumi Aceh sejak dahulu dikenal sebagai gerbang masuknya Islam di Nusantara. Ketika nama-nama besar seperti Po Teumerehom, Syekh Syiah Kuala, hingga Hamzah Fansuri mengukir tinta emas peradaban, mereka tidak hanya mengajarkan hukum, melainkan menanamkan akar tauhid dan tasawuf yang menghujam kuat ke dalam sanubari masyarakat.
Muzakarah Internasional ke-II ini dirasakan oleh banyak pihak bagaikan sebuah upaya “menulis ulang sejarah.” Meskipun para wali dan ulama besar tersebut hidup di abad yang berbeda, kiprah dan warisan spiritual mereka seolah menyatu dalam satu napas perjuangan: membina umat dengan cinta dan akhlak yang mulia. Di bulan maulid yang mulia ini—momentum di mana Baginda Nabi Muhammad SAW diutus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak—gema tasawuf terasa begitu hidup, menyapa setiap hati yang merindukan kedamaian hakiki.
Titah Agung dan Restu Para Pemangku Adat
Dukungan penuh mengalir dari berbagai penjuru kesultanan nusantara. DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya & Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam) menyampaikan tahniah serta apresiasi agung kepada Abuya Amran, panitia, dan seluruh peserta dari berbagai negara. Melalui Wazir Katibul Muluknya, Dato’ Dr. (C) Ridwan, S. Pd. I., MA., M. Pd., Baginda Sultan menegaskan pentingnya menjaga kemurnian tauhid di tengah arus modernitas.
Hal serupa disampaikan oleh Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. (Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara). Ia terharu melihat bagaimana para ulama sufi merajut kembali tali persaudaraan lintas bangsa, menegaskan bahwa peradaban Aceh yang agung dibangun di atas pondasi tauhid yang kokoh.
Sementara itu, YAM Teuku Amri dari Kerajaan Negeri Kuala Batu mengungkapkan keharuannya yang mendalam. Sebagai seorang tokoh yang juga mendedikasikan dirinya dalam pelatihan pembibitan padi, beliau melihat kesamaan filosofis antara merawat benih tanaman di sawah dan merawat benih tauhid di dalam dada manusia. “Ini bagai menulis kembali sejarah kemajuan Islam, menghubungkan sejarah, budaya, adat, syariat, dengan zaman sekarang dan Generasi Gen-Z,” tuturnya dengan suara bergetar penuh inspirasi.
Dari wilayah berbeda, YAM Teuku Nasruddin (Kerajaan Negeri Tanah Nata) turut menyampaikan tahniah dengan penuh semangat. Ia menyatakan bahwa masyarakat saat ini sangat membutuhkan bimbingan tasawuf yang benar untuk membentengi diri. Pihaknya bertekad untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan ini (halo-halo) ke seluruh penjuru wilayahnya.
Menghubungkan Sekolah, Generasi Z, dan KALAM PRABU
Satu sisi paling menggelitik sekaligus mencerahkan dari gelaran ini adalah bagaimana para pemangku adat melihat hubungan antara acara akbar para sufi dengan pembinaan karakter anak muda di bangku sekolah.
Wazir Katibul Muluk Kerajaan Negeri Daya menyoroti sebuah inisiatif mulia yang sedang mereka gerakkan, yakni penerapan KALAM PRABU (Kearifan lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya) yang difokuskan langsung ke sekolah-sekolah. Program ini dirancang agar generasi muda Gen-Z memiliki rasa memiliki (save of belonging) terhadap amanah syariat, adat, dan budaya.
Ketika para ulama sufi internasional bermuzakarah merajut tasawuf di tingkat global, di sisi lain para pemangku adat membumikannya lewat dunia pendidikan di ruang-ruang kelas. Kolaborasi tak kasat mata ini menjadi jembatan emas yang sangat dinantikan: bagaimana seorang anak muda Gen-Z yang akrab dengan teknologi tetap memiliki kelembutan hati, kedalaman zikir, dan keluhuran akhlak selaras dengan kearifan lokal Aceh.
Sebuah Doa untuk Masa Depan Umat
Muzakarah Ulama Sufi Tauhid Tasawuf Internasional ke-II di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh telah membuktikan bahwa tasawuf bukanlah ilmu yang kaku atau tertinggal zaman, melainkan mata air penyejuk yang relevan sepanjang masa.
Harapan besar kini disematkan agar kegiatan ini tidak berhenti pada seremonial belaka. Semoga ia terus berlanjut ke jilid III, IV, dan seterusnya sepanjang masa, menjadi simpul silaturahmi abadi bagi ulama sufi dunia, serta melahirkan generasi muda Nusantara yang cerdas akalnya, tangguh budayanya, dan suci hatinya.