Banda Aceh – Di ujung barat Pulau Sumatra, hembusan angin tanah Rencong membawa kabar gembira yang menggetarkan jiwa (29-10-2026). Dari rahim bumi Aceh Jaya, sebuah gelombang kebangkitan intelektual dan kultural lahir, memadukan keagungan syariat Islam dengan keluhuran adat istiadat warisan para indatu.
Radja Negeri Daya Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam, DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah, didampingi oleh YAM Permaisuri Maslaini Siregar, menyampaikan apresiasi dan tahniah setinggi-tingginya. Titah penuh bangga ini dialirkan atas kesuksesan ganda yang diraih oleh putra-putri terbaik Aceh Jaya, lolosnya inovasi pendidikan ke panggung finalis, serta keberhasilan gemilang dalam sidang akademik doktoral.
Inilah kisah tentang bagaimana kearifan lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu yang tersimpan rapi di dalam museum, melainkan napas yang hidup, mengalir, dan siap membimbing generasi Z menyongsong masa depan bangsa.
KALAM PRABU: Inovasi Pendidikan Religius yang Membumi
Kabar membanggakan datang dari ajang nominasi Finalis PENAJAYA (Pembinaan dan Penghargaan Inovasi Aceh Jaya). Sebuah tim profesional yang diutus langsung oleh Wazir Katibul Muluk atas titah Radja Negeri Daya, yakni Falia Yuhasini, S.Pd. dan Zahraturrahmi, S.KM., sukses mempresentasikan inovasi gemilang bernama KALAM PRABU (Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya).
KALAM PRABU hadir sebagai jawaban atas keresahan zaman. Di tengah gempuran arus globalisasi dan modernisasi digital yang kerap mengikis identitas budaya, inovasi ini menawarkan konsep pendidikan karakter yang berpijak teguh pada falsafah hidup masyarakat Aceh: “Hukom ngon Adat lagee zat ngon sifeut”. Tegas Radja Negeri Daya.
Konsep akademis yang hidup ini dirancang bukan sekadar menjadi tumpukan tulisan di atas kertas birokrasi, melainkan sebuah aksi nyata yang menyatu dalam setiap hembusan nafas kearifan lokal di pangkuan generasi Z. Lebih hebatnya lagi, gagasan cemerlang ini dinilai memiliki relevansi yang kuat dan sangat layak untuk diterapkan di seluruh penjuru Nusantara, menjadikannya model percontohan nasional dalam pembentukan karakter anak bangsa.
Kitab yang Hidup: Ujian Disertasi yang Menggugah Jiwa
Di hari yang sama, gelombang kebanggaan kian memuncak tatkala Dato’ Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd. sukses melewati Ujian Sidang Hasil Penelitian Disertasi bertajuk “Pembinaan Karakter Religius Berbasis Kearifan Lokal (Studi Analisis Strategi di Dayah Terpadu Aceh Jaya)”.
Meski Radja Negeri Daya berhalangan hadir secara langsung di ruang sidang, beliau bersama Permaisuri tetap mengikuti perkembangannya dan menyampaikan tahniah hangat dalam rapat terbatas kerajaan usai sidang berlangsung.
Dukungan moral yang luar biasa juga datang dari Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara, Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D, bersama YTM Datin Afrina Marwati, yang hadir langsung menyaksikan jalannya ujian sidang. Keduanya menyampaikan apresiasi mendalam, menyebut bahwa pencapaian ini membuktikan bahwa putra-putri Aceh senantiasa konsisten menjaga amanah syariat, adat, budaya, dan kearifan lokal demi marwah dan kemajuan bangsa.
Sidang akademik tersebut menjadi semakin istimewa berkat kehadiran para begawan ilmu yang memberikan catatan-catatan bermakna: Prof. Dr. Phil. Abdul Manan, M.Sc., M.A. yang dikenal luas sebagai Profesor Kenduri Aceh, putra Manggeng Aceh Barat Daya sekaligus alumnus Belanda dan Jerman bertindak selaku Promotor I dan Ketua Pembahas. Beliau menyampaikan apresiasi luar biasa, menegaskan bahwa kearifan lokal Aceh adalah sebuah mahakarya empiris.
“Kegiatan ini mengajarkan generasi bukan hanya belajar dari kitab kuning secara tekstual, namun adat, budaya, dan kearifan lokal Aceh itu bagai kitab yang hidup. Tergantung bagaimana cara kita memaknainya; dapat dilihat, dirasa, didengar, dan diraba sebagai data empiris yang ampuh untuk membina karakter religius generasi Z,” ujar Prof. Abdul Manan penuh inspirasi.
Beliau juga mengajak para penguji untuk mempertajam penelitian ini agar kelak hidup dan dikembangkan secara nyata oleh sekolah, Kerajaan Negeri Daya, hingga Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara.
Prof. Dr. Salami Mahmud, M.A. selaku Promotor II turut mengungkapkan rasa bangganya. Mahasiswa bimbingannya dinilai berhasil meramu disertasi melampaui batas formalitas akademik menghasilkan inovasi yang kini telah berlisensi HKI, masuk nominasi finalis PENAJAYA di tingkat kabupaten, menembus ajang IGA (Innovative Government Award) di tingkat nasional, hingga KIPP (Kompetensi Inovasi Pelayanan Publik) nasional.
Prof. Dr. Saifullah, M.Ag. sebagai Pembahas I sekaligus putra daerah Aceh Jaya, menekankan pentingnya mempertajam kualitas analisis serta mempermak judul agar nilai jual formal dan materialnya semakin kuat. Beliau menitipkan pesan moral yang mendalam: “Yang memperbaiki daerah itu harus orang daerah itu sendiri. Jangan menunggu orang lain datang memperbaiki.”
Prof. Dr. Muhammad AR., M.A. selaku Pembahas II memberikan ketelitian dari sudut pandang kebahasaan. Beliau mengoreksi pola pembahasan hingga tatanan kalimat dan seni menulis yang independen, sekaligus memastikan terjaganya privasi para informan secara rapi tanpa mengurangi esensi ilmiah dari penelitian tersebut.
Keberhasilan prosesi sidang ini tentu tidak lepas dari dukungan moral tim supporters yang hadir membersamai, yakni Syarifah Musanna, S.Pd.I., M.Ag., Fetti Eliyani, S.Pd., M.Pd., Magfirah, S.Pd.I., M.Ag., beserta keluarga besar, yang memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar tanpa ada kendala suatu apa pun.
Menyalakan Lentera Karakter untuk Nusantara
Menutup rangkaian momen bersejarah tersebut, Dato’ Dr. Ridwan menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh promotor, pembahas, serta pihak kerajaan dan Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara yang telah membimbingnya. Ia menegaskan komitmennya agar karya ini tidak berhenti sekadar sebagai arsip perpustakaan atau pemenuhan tugas akademik semata, melainkan terus hidup, bernapas, dan bertransformasi menjadi gerakan nyata inovasi pembinaan karakter religius berbasis kearifan lokal.
Dari Aceh Jaya untuk Nusantara, torehan ini membuktikan bahwa akar budaya yang kuat tidak akan pernah membuat suatu bangsa lemah tergilas zaman. Sebaliknya, kearifan lokal justru menjadi kompas paling jujur dan kokoh untuk menuntun generasi muda menjadi insan yang berakhlak mulia, religius, berbudaya, dan membanggakan pertiwi.