ACEH JAYA — Suasana di Astaka Diraja Kerajaan Negeri Daya mendadak hening. Tidak ada suara selain helaan napas berat dan isak tangis yang pecah pelan di antara jajaran tamu undangan. Keheningan yang sarat akan makna itu tercipta ketika nilai-nilai sejarah, adat, dan syariat yang 700 tahun silam seolah terlelap, kembali dipanggil pulang ke pelukan generasi muda.
Hari itu, Panitia SMP Darun Nizham bersama unsur lintas sektor sukses menggelar rangkaian acara monumental: Pengukuhan Inovasi KALAM PRABU ( Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya ), Penandatanganan MoU & Prasasti, serta Penganugerahan Tokoh Mitra Strategis Lintas Sektor. Namun, lebih dari sekadar perhelatan formal, acara ini menjelma menjadi momen spiritual dan emosional yang menggetarkan dada siapa saja yang hadir.
Tetesan Air Mata Pembuka Kesadaran
Suasana haru membuncah tatkala Kepala SMP Darun Nizham sekaligus Wazir Katibul Muluk Kerajaan Negeri Daya, Dato’ Dr. (C) Ridwan, S.Pd.I., MA, M.Pd., menyampaikan Segalanya. Kandidat doktor pendidikan Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh tersebut tak sanggup membendung air matanya. Suaranya tergetar hebat saat mengenang perjuangan Sultan Salatin Alaiddin Riayat Syah yang mendirikan Kerajaan Negeri Daya pada tahun 1480—membawa kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya, bahkan 300 tahun sebelum Kesultanan Aceh Darussalam berdiri.
“Betapa perih hati ini saat melihat kenyataan bahwa generasi Gen-Z hari ini banyak yang tidak tahu, bahkan tidak peduli pada bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah kita,” ungkap Dato’ Ridwan di selang isak tangisnya. “Padahal pemilik peninggalan itu, para leluhur kita, jauh lebih mulia dari kakek nenek kita hari ini. Mereka menanamkan nilai syariat dan akhlak dengan darah dan doa.”
Dengan nada penuh keharuan, beliau menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh panitia, tamu undangan lintas sektor, serta Tamu Agung DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya & Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam) bersama Dato’ Kiam Radja TG. Prof.DR(HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. (Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara). Kehadiran lima Raja Aceh Darussalam beserta para pangeran dan permaisuri di Astaka Diraja menambah keagungan sekaligus kekhusyukan suasana.
Dukungan hangat juga mengalir dari perwakilan Camat Jaya. Beliau menekankan bahwa langkah ini sangat positif dan membawa harapan dalam menghidupkan kembali akar adat dan budaya mulai dari generasi muda, agar mereka memiliki identitas serta rasa memiliki terhadap setiap situs sejarah yang ada.
Petuah Arif dari Singgasana dan Nusantara
Dalam amanat diraja yang arif dan bijaksana, DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah menggarisbawahi pentingnya menjaga akhlak mulia dan beu meu adab agar warisan syariat tetap terpelihara hingga ke anak cucu. Dengan penuh kerendahan hati, sang Radja menuturkan sebuah pengakuan yang menyentuh hati para hadirin, “Saya juga seorang guru.”
Semangat tersebut diperkuat oleh Dato’ Kiam Radja TG. Prof.DR(HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. Dengan logat Melayu yang kental dan nada penuh penghayatan, beliau menegaskan dukungan penuh terhadap pengukuhan KALAM PRABU.
Mari kita bersama merawat amanah syariat dan budaya takbenda ini, agar generasi penerus dapat kembali menghargai dan mencintai akar sejarahnya sendiri, cetusnya mantap.
Inspirasi ini menyebar luas hingga para pemimpin kerajaan lain yang hadir:
YAM Teuku Amri (Kerajaan Negeri Kuala Batu): Dengan bangga dan haru mengaku bahwa dia juga seorang guru pelatihan pembibitan padi. Dia mengaku sangat terinspirasi oleh gebrakan para pendidik yang berhasil menjembatani sejarah, adat, dan syariat kepada Gen-Z.
YAM Teuku Nasruddin (Kerajaan Negeri Tanah Nata): Menyampaikan bahwa wilayahnya membentang hingga ke Singkil. Beliau menegaskan siap menyuarakan dan menggemakan penerapan program KALAM PRABU ke sekolah-sekolah di seluruh wilayahnya agar rasa memiliki terhadap warisan syariat dan budaya terus tumbuh.
Mengukir Prasasti, Merajut Masa Depan
Prosesi diakhiri dengan penandatanganan Prasasti Pengukuhan KALAM PRABU serta penyerahan penghargaan Hubungan Masyarakat Kerajaan Negeri Daya kepada para tokoh lintas sektor yang memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian syariat, adat, dan budaya.
Salah satu momen berkesan adalah kehadiran Pimpinan Yayasan Nurul Huda Ladang Baroe Panga yang dianugerahi penghargaan sebagai Wanita Terinspiratif Tahun 2026. Kolaborasi erat mulai terbangun untuk masa depan, di mana sekolah tersebut dipersiapkan menggelar lomba penutur sejarah, dengan hadiah yang diharapkan akan diserahkan langsung oleh Raja Negeri Daya.
Rangkaian acara yang penuh khidmat ini ditutup dengan doa bersama dan kenduri maulid bersama warga serta para Raja. Setelah menunaikan shalat Zhuhur berjamaah, para tamu agung dan rombongan melakukan ziarah ke makam pendiri Kerajaan Negeri Daya, Sultan Salatin Alaiddin Riayat Syah (Poteumeurehom).
Gerakan dari balik dinding SMP Darun Nizham ini bukan sekadar seremoni biasa. Ia telah menjadi pemantik api kesadaran di Aceh Jaya, yang cahayanya kini mulai memikat dan menginspirasi seluruh pelosok Nusantara.