ACEH JAYA — Sebuah skenario ilahi yang tak terduga menciptakan momen bersejarah di Tanah Rencong. Rencana awal dewan guru SMP Darun Nizham untuk menyambut kedatangan para tamu agung di sekolah mereka tiba-tiba berubah total karena kendala teknis. Siapa sangka, hambatan tersebut justru menjadi pintu pembuka bagi sebuah penghormatan luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tanpa mengurangi rasa hormat, Radja Negeri Daya Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam bersama Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara mengambil keputusan mengejutkan: mengundang khusus seluruh dewan guru SMP Darun Nizham ke Astaka Diraja Kerajaan Negeri Daya . Rencana yang semula menempatkan para guru sebagai tuan rumah penyambut, kini memulihkan penuh kehangatan. Justru para raja, sultan, hingga pejabat daerah yang bersiap menyambut kehadiran para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut.
“Nyoe Bandum Grak Allah”
Perubahan rencana yang berakhir pada keindahan ini menyentuh sanubari para tokoh penting yang hadir. DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah, Raja Negeri Daya sekaligus Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kejadian ini terjadi atas kehendak Sang Pencipta.
“Nyoe bandum grak Allah… Geutanyo jeut ta suson rencana, yang penyata bandum hak Allah. Dipat taduek, ngon soe tajak, dan lain-lain bukuon karena tanyoe carong atawa hai laen,” tutur Baginda Sultan penuh ketundukan. (Ini semua adalah kehendak Allah… Kita boleh menyusun rencana, tetapi keputusannya adalah hak penuh Allah. Di mana kita duduk, ke mana kita melangkah, bukan karena kita pintar atau alasan lainnya).
Senada dengan pernyataan tersebut, Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara, YAM Dato’ Kiam Radja TG. Prof. Dr. (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D., mengungkapkan pandangan spiritualnya terkait pergeseran lokasi acara ini. Beliau menekankan bahwa tempat terbaik dan paling layak bagi peristiwa bersejarah ini telah digariskan sejak awal.
“Sudah pilihan Allah bagaimana dan di mana tempat yang lebih layak. Tulisan dan batasan semuanya sudah ditentukan di alam azali,” tegas Prof. Fekri.
Momen Luar Biasa di Luar Nalar Manusia
Wazir Katibul Mulk Kerajaan Negeri Daya, Ridwan, S.Pd.I., MA, M.Pd., yang juga merupakan tokoh kunci dalam kegiatan ini, tak mampu menyembunyikan rasa haru dan takjubnya. Bagi masyarakat setempat, peristiwa ini dirasakan sangat ajaib dan di luar jangkauan pemikiran awam.
“Peristiwa istimewa ini di luar konsep standar, hantroeh akai ngon ta seumike, hantroeh cawe ngon bicara (tidak sampai akal saat kita berpikir, tidak terjangkau kata saat kita berdiskusi). Namun, ini benar-benar terjadi di depan mata. Rasa tak percaya, padahal semua telah tersusun rapi—hadiah dan ratusan trofi tinggal disebarkan. Tapi apa hendak dikata, takdir Allah berkata lain. Lokasi berangkat ke induk rahim tempat KALAM PRABU, yaitu di Astaka Diraja Kerajaan Negeri Daya,” Ridwan dengan mata berkaca-kaca.
Gotong Royong dan Kehangatan Budaya
Merespons penghormatan istimewa dari pihak istana kerajaan, jajaran dewan guru SMP Darun Nizham bersama masyarakat bergerak cepat dengan penuh kegembiraan. Semangat kebersamaan terpancar jelas saat persiapan pemberangkatan ke Astaka Diraja dirancang secara swadaya.
Para guru sepakat membawakan hidangan nasi maulid sebagai simbol rasa syukur dan pemersatu silaturahmi. Mengenakan pakaian terbaik untuk bertemu raja, rombongan bertolak menggunakan beberapa armada mobil—termasuk kendaraan Tgk. Jhon, Pak Cek, Pak Nasir, serta jajaran wartawan yang turut mengabadikan momen langka ini. Turut hadir memberi dukungan penuh, Camat Jaya dan Camat Indra Jaya, yang semakin memperkuat nilai sinergi lintas sektor dalam acara monumental tersebut.
Pengukuhan Inovasi KALAM PRABU di Cagar Budaya
Acara puncak yang berlangsung di cagar budaya Meurehom Daya ini menghadirkan jajaran tamu agung. Kehadiran para pemangku adat dan pejabat pemerintah ini menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam memperkuat sinergi pelestarian kearifan lokal serta pendidikan karakter anak bangsa.
Adapun rangkaian kegiatan utama yang diselenggarakan meliputi:
-
Pengukuhan Inovasi KALAM PRABU: Ditetapkan sebagai standar penguatan karakter anak bangsa yang dihilangkan kuat pada nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas Nusantara.
-
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) & Prasasti: Langkah konkret untuk menjamin pelestarian pelestarian budaya dan integrasi nilai adat dalam sistem pendidikan.
-
Penganugerahan Tokoh Mitra Strategis Lintas Sektor: Penghargaan khusus kepada pihak yang memberikan kontribusi nyata dalam menjaga integritas sejarah dan memajukan mutu pendidikan.
Ridwan, yang saat ini tengah menempuh studi sebagai Kandidat Doktor Ilmu Pendidikan di Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menyampaikan apresiasi mendalam atas persiapan kegiatan ini di tempat yang begitu sakral.
Semoga seluruh rangkaian kegiatan yang dirancang di cagar budaya Meurehom Daya ini dapat berjalan dengan lancar, membawa keberkahan, serta bermanfaat bagi kita semua dalam lindungan Allah SWT,” pungkasa Ridwan.
Kisah dari Serambi Mekkah ini menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat Nusantara: ketika niat tulus pendidikan dipadukan dengan ketetapan ilahi, sebuah kendala teknis pun dapat berubah menjadi penghormatan paling agung yang menginspirasi negeri.