LHOKSUKON — Menjelang perhelatan megah Piasan Pase 2026 dalam rangka Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-800 Kabupaten Aceh Utara, gelombang penghormatan dan takzim mengalir deras dari tampuk pimpinan pemangku adat serta titah kesultanan Nusantara. Perayaan delapan abad ini tak sekadar menjadi pesta rakyat lokal, melainkan momen bersejarah yang memantik kembali ingatan kolektif bangsa akan kejayaan maritim dan Islam di Nusantara.
Warkat Tahniah disampaikan secara resmi oleh Radja Negeri Daya Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam, DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah, bersama Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara, Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. Pesan penuh keagungan ini diwakili dan disuarakan langsung oleh Wazir Katibul Muluk Kerajaan Negeri Daya Aceh Darussalam, Dato’ Dr. (C) Ridwan, S.Pd.I., MA, M.Pd.
Nyala Api Peradaban dari Bumi Pase
Dalam amanatnya, Dato’ Dr. (C) Ridwan menegaskan bahwa angka 800 tahun bukanlah sekadar hitungan usia, melainkan monumen hidup dari sebuah mercusuar peradaban.
“Delapan abad Samudera Pasai adalah fondasi sejarah yang membentuk identitas bangsa. Dari tanah Pase inilah panji Islam, diplomasi peradaban, dan tradisi bahari menyatu dengan pelbagai kesultanan di Nusantara. Kami mendoakan semoga Aceh Utara terus bangkit, menjaga nilai adat, serta mengukuhkan syariat demi kesejahteraan rakyatnya,” tutur Dato’ Dr. (C) Ridwan menyuarakan titah DYMM Sultan Saifullah dan Prof. Fekri Juliansyah.
Simfoni Spiritual dan Kebudayaan: 7 Hari 7 Malam Membuka Mata Dunia
Rangkaian Piasan Pase 2026 yang dihelat selama 7 hari 7 malam (6–13 September 2026) di Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Lhoksukon, dinilai oleh para pemangku adat Nusantara memiliki kedalaman makna yang sangat langka:
-
Pijakan Takzim Sejarah: Diawali dengan ziarah ke makam pendiri peradaban, Sultan Malik Al-Shaleh dan Ratu Nahrasyiah—sebuah keteladanan moral dan spiritual yang patut diteladani oleh seluruh pimpinan daerah di Indonesia.
-
Gema Kolosal 800 Rapa’i Pase: Dentuman ritmis 800 penampil Rapa’i Pase bersama kehadiran Menteri Kebudayaan RI menjadi bukti nyata keberanian Aceh Utara untuk membawa warisan takbenda ini mengguncang panggung dunia.
-
Aksi Nyata untuk Generasi Depan: Festival Kolaborasi Kuah Kari Pasee di 27 kecamatan, santunan 800 anak yatim, penanaman 800 pohon, hingga syiar Pembacaan Kitab Kuning membuktikan bahwa kejayaan masa lalu berhasil ditransformasikan menjadi kepedulian sosial yang hidup.
Menatap Masa Depan Nusantara
Langkah visioner Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE, MM (Ayah Wa), yang menegaskan bahwa perjalanan panjang 800 tahun ini harus menjadi pijakan masa depan, mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Kerajaan Negeri Daya serta Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara.
Mengakhiri penyampaian warkat tersebut, Wazir Katibul Muluk Dato’ Dr. (C) Ridwan menekankan bahwa semangat yang membumbung dari bumi Samudera Pasai hendaknya menjadi pemantik inspirasi bagi seluruh masyarakat dan pemangku adat dari Sabang sampai Merauke. Bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang berani merawat akar sejarahnya demi melangkah mantap menuju masa depan yang berdaulat, bermartabat, dan berbudaya.