Aceh Jaya – Suasana haru biru menguar di sudut sebuah sekolah. Di sana, raut wajah lelah para siswa dan panitia tak lagi mampu menyembunyikan rasa kecewa yang mendalam. Rencana besar yang disusun berbulan-bulan, sebuah momen bersejarah untuk mengukuhkan inovasi pendidikan karakter berbasis tradisi bernama KALAM PRABU (Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya), mendadak tertunda jelang detik-detik acara final. Tanpa alasan yang dapat sepenuhnya dicerna oleh logika awam, panggung yang telah berdiri tegak terpaksa hening. Isak tangis haru dan rasa belas kasihan melingkupi para siswa yang telah berlatih siang dan malam, serta para wali santri yang sejak jauh hari telah menyiapkan baju seragam penuh kebanggaan.
Namun, di balik tetesan air mata yang jatuh ke bumi, sebuah hikmah besar yang menggetarkan hati justru baru saja dimulai—sebuah kisah ketabahan dari Tanah Rencong yang kini menginspirasi masyarakat di seluruh pelosok Nusantara.
Ketika Plan A Kandas di Tengah Jalan
Menurut Wazir Katibul Muluk Kerajaan Negeri Daya Aceh Darussalam, Dato’ Dr. (C) Ridwan, S.Pd.I., MA, M.Pd., tertundanya ini benar-benar menguji ketahanan mental dan keikhlasan sepanjang waktu. Padahal, segala persiapan teknis telah dilakukan dengan sangat matang jauh hari. Sosialisasi menyeluruh, rapat terbatas, hingga konsolidasi terbuka bersama para sponsor dan wali murid berjalan tanpa hambatan.
Semangat kebersamaan begitu membuncah. Para wali santri bahkan dengan sukarela berkontribusi dan bersiap menyambut kehadiran tamu-tamu agung. Rombongan yang diselenggarakan hadir bukanlah suatu keadaan yang sembarangan:
DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Radja Negeri Daya Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam)
Dato’ Kiam Radja TG. Prof.DR(HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. (Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara)
Rombongan lima radja legendaris dari seluruh penjuru Aceh.
Tidak hanya itu, panitia yang terbagi dalam tujuh tim lintas unsur—terdiri dari pihak sekolah, komite, donatur, tokoh muda, tokoh pendidikan, cendekiawan, hingga masyarakat adat—sudah siap mengenakan pakaian kebesaran adat mereka. Namun, keputusan takdir berkata lain.
“Ketentuan Allah di atas segalanya. Yang berencana silahkan siapa saja dan bagaimana saja, namun hakikat penentuan mutlak berada di atas sana,” pangkas Radja Negeri Daya dengan penuh kearifan.
Menjemput Hikmah: Dari Sekolah ke Panggung Sejarah Abad ke-14
Menanganggapi kabar tertundanya acara akibat kendala teknis, Dato’ Dr. (C) Ridwan tidak membiarkan kesedihan berlarut-larut. Bersama tim, beliau bergerak cepat menggalang pertemuan darurat terbatas bersama Radja Negeri Daya dan Ketua Lembaga Radja Sultan se-Nusantara. Dari lahirnya sebuah Plan B sebagai jawaban atas Plan A yang telah kandas.
Revisi besar-besaran dilakukan: surat undangan diperbarui, jadwal disusun ulang, dan lokasi acara dipindahkan. Meski terasa jauh lebih berat karena harus merombak konsep dasar, hembusan napas lega mulai terasa di dada para panitia.
Menariknya, Ketua Lembaga Radja Sultan se-Nusantara, TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D., melihat peristiwa ini dari sudut pandang spritual dan historis yang sangat mendalam. Beliau mengungkapkan bahwa tiba-tiba ini bukanlah musibah, melainkan petunjuk ilahi.
Allah SWT menghendaki pengukuhan inovasi KALAM PRABU ini dilaksanakan langsung di Astaka Diraja Negeri Daya—sebuah tempat sakral yang menjadi induk sanad warisan adat dan budaya Aceh sejak dilahirkan pada abad ke-14 silam. Pengejawantahan nilai KALAM PRABU justru dikembalikan langsung ke akar sejarah terbesarnya.
Perjuangan Tanpa Lelah: Menembus Terik dan Debu Jalanan
Demi menepati janji moral dan mengobati mengecewakan para siswa, Dato’ Dr. (C) Ridwan bersama Tgk. Jhon Agusni (Juri Lomba Penutur Sejarah, Tahfiz, serta Cerdas Tangkas Cermat dan Familiah) mengambil langkah berani. Mereka memilih turun langsung ke lapangan mendatangi sekolah para pemenang untuk menyerahkan piala dan sertifikat yang ditandatangani langsung oleh Radja Negeri Daya dan Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara.
Perjuangan garis depan ini disokong penuh oleh para srikandi pendidikan: Ibu Fittri Suzanni, S.Pd.I., yang rela kerja lembur hingga larut malam demi menyiapkan seluruh atribut dan file administrasi untuk juara. Ibu Depi Ratnasanti, S.Pd. (Guru PAI) dan Ibu Selli Nuriputri, S.Pd. (Guru IPS), yang turun ke lapangan menembus terik mentari, debu jalanan berliku, dan jalanan berlubang dari pagi hingga sore hari demi menyapa anak-anak tercinta.
Meskipun sebagian orang yang melakukan tindakan bola ini terkesan tidak masuk akal dan sangat menguras tenaga, bagi para pejuang pendidikan ini, senyum dan air mata bahagia para siswa adalah penawar dari segala rasa lelah.
Dari Habis Gelap Terbitlah Terang
Pengorbanan dan keikhlasan itu pada akhirnya melahirkan takdir yang tak terduga. Jika sebelumnya panitia dan sekolah yang bersiap setengah mati untuk menyambut kedatangan para Radja, kini roda kebaikan berputar ke arah. Pihak sekolah dan panitia justru diundang secara khusus dan disambut secara istimewa di panggung utama Astaka Diraja Kerajaan Negeri Daya.
Menutup perjalanan emosional yang penuh ikhlas ini, Dato’ Dr. (C) Ridwan merangkumnya dengan peribahasa penuh makna yang menggambarkan dinamika perjuangan mereka.
“Bagi generasi 90-an mungkin paham dengan istilah ‘sengsara membawa kenikmatan’, namun anak zaman sekarang lebih familiar dengan ‘habis gelap terbitlah terang’. Tapi beda lagi dengan kalimat legendaris sepanjang abad: roda itu berputar, sekali kita di bawah, dua kali kita jua di bawah—sebelum akhirnya diangkat tinggi oleh-Nya,” tutur Ridwan tersenyum haru.
Kisah tertunda KALAM PRABU ini menjadi bukti nyata bagi seluruh anak bangsa bahwa ketika sebuah niat tulus dihadang rintangan teknis, keikhlasan dan keteguhan changhe yang akan mengantarkannya pada kemuliaan yang lebih besar.