Oleh : Dato’ Kiam Radja Fekri Juliansyah *
Sejarah bukanlah sekadar sekumpulan lembaran usang yang berdebu di balik lemari perpustakaan, melainkan bentangan cermin raksasa tempat sebuah bangsa berefleksi. Di dalamnya tersimpan jejak-jejak keberanian, spiritualitas, serta jaringan persaudaraan yang pernah menyatukan pelbagai pelosok Kepulauan Nusantara. Ketika kita bersedia membuka dan membaca kembali lipatan silsilah para pendahulu, kita akan mendapati betapa garis keturunan, perjuangan, dan takdir bangsa ini telah terjalin sangat erat sejak ratusan tahun lalu—melintasi selat, gunung, hingga batas-batas kerajaan.
Salah satu jalinan kisah yang paling memikat dan mengagumkan bermula dari ujung utara Pulau Sumatera, tepatnya di Basma, Samudera Pasai. Di tanah yang kaya akan nilai spiritual dan keilmuan Islam tersebut, pada tahun 1490 Masehi, lahirlah seorang bayi yang kelak menorehkan tinta emas dalam panggung sejarah peradaban Nusantara. Beliau adalah Maulana Syeikh Syarif Fadhillah. Di dalam lintasan zaman, sosok pahlawan besar ini dikenali lewat banyak nama terhormat, mulai dari Sayyid Maulana Fadhillah, Fadhillah Khan, Fatahillah, hingga Tubagus Pasai.
Perjalanan hidup Maulana Syeikh Syarif Fadhillah merupakan gambaran nyata tentang mobilitas dan luasnya jangkauan pengaruh tokoh Nusantara masa lalu. Beliau tidak hanya aktif di tanah kelahirannya di Sumatera, tetapi juga melanglang buana hingga ke Semenanjung Melaka serta Pulau Jawa. Di Kesultanan Melaka, keberanian dan kecakapannya dalam memimpin angkatan laut membuatnya dipercaya menjadi seorang panglima perang yang tangguh. Beliau bahkan diangkat menjadi Laksamana Kesultanan Melaka—menggantikan posisi mertuanya, sang legenda ketahanan Melayu, Laksamana Hang Tuah—setelah beliau mempersunting Tun Sirah binti Laksamana Hang Tuah. Dalam catatan sejarah Melaka, sosok panglima perkasa ini sangat masyhur dengan gelaran Laksamana Khoja Hassan.
Darah kepemimpinan, keulamaan, dan keteguhan iman mengalir kental dalam diri Maulana Syarif Fadhillah. Jika dirunut dalam talian kekerabatan, beliau merupakan keponakan langsung dari dua tokoh kunci penyebaran Islam dan pemegang kekuasaan besar di Pulau Jawa, yakni Maulana Syeikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati II) yang bertakhta sebagai Sultan Cirebon, serta Syarif Abdul Fattah atau Sultan Fattah (Raden Fatah) yang bertakhta sebagai Sultan Demak. Hubungan darah yang erat ini memperkuat simpul aliansi antara kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara dalam menghadapi ancaman penjajahan asing.
Puncak reputasi militernya terukir abadi dalam sejarah pergerakan bangsa pada rentang tahun 1526 hingga 1527 Masehi. Ketika ekspansi armada Portugis mulai mencengkeram dan mengancam pelabuhan strategis Sunda Kelapa, Maulana Syarif Fadhillah mendapat amanah besar untuk memimpin gabungan pasukan dari Kesultanan Demak dan Cirebon. Dengan pertolongan Tuhan dan strategi perang yang matang, beliau bersama pasukannya berhasil menghancurkan kekuatan tempur Portugis dan mengusir penjajah dari wilayah tersebut. Atas kemenangan monumental pada 22 Juni 1527 Masehi itu, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta—kota yang dalam perjalanan zaman berkembang menjadi Batavia dan kini kita kenal sebagai Ibu Kota Jakarta.
Seusai membawa kemenangan gemilang di Jayakarta, ikatan perjuangan dan kekeluargaan beliau terus berlanjut di Jawa Barat. Saat berada di Cirebon, Maulana Syarif Fadhillah mempersunting Nyai Ratu Wulung, putri dari paman beliau, Maulana Syeikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati II), hasil pernikahan dengan Nyai Tepasari. Dari garis pernikahan dengan Nyai Ratu Wulung inilah mengalir trah luhur yang menurunkan para pemimpin dan pejuang di masa-masa berikutnya.
Dedikasi Maulana Syarif Fadhillah terhadap agama dan negara mencapai puncaknya menjelang akhir hayat beliau. Ketika wafatnya sang paman sekaligus mertua, Sunan Gunung Djati II, pada tahun 1568 Masehi dalam usia 120 tahun, Maulana Syarif Fadhillah diangkat untuk mengemban amanah sebagai Pejabat Sementara (PJ) Sultan Cirebon. Selama dua tahun memimpin Kesultanan Cirebon hingga beliau wafat pada tahun 1570 Masehi, kepemimpinannya yang arif dan berwibawa membuat masyarakat luas juga mengenali beliau dengan gelaran Sunan Gunung Djati. Jasad sang panglima penakluk ini kemudian diperistirahatkan dengan tenang di Cirebon, meninggalkan warisan keteladanan yang tak lekang oleh waktu.
Namun, warisan terbesar Maulana Syarif Fadhillah tidak berhenti pada panggung politik dan pertempuran semata. Anak keturunan atau dzurriyat beliau menyebar luas dan berakar kuat di berbagai penjuru wilayah Sumatera Bagian Selatan, membawa serta nilai-nilai kehalusan budi, keberanian, dan spiritualitas Islam.
Melalui jalur pernikahan beliau dengan Permaisuri Nyai Ratu Wulung binti Syeikh Syarif Hidayatullah, lahirlah silsilah mulia yang menurunkan Puyang Awak (Toean Syarif Nur Qadim Al Baharuddin), sosok pendiri Adat Semende di kawasan Besemah/Semende. Garis keturunan luhur inilah yang terus menyambung hingga sampai kepada sang penulis kisah sejarah ini. Sementara itu, dari pernikahan beliau dengan Nyai Ratu Pembayun binti Sultan Fattah dari Demak, lahir jalur keturunan Kyai Bagus Abdurrahman dan Kyai Mas Abdul Aziz yang menjadi cikal bakal penyebar gelar bangsawan Kiagus dan Kemas di Palembang. Adapun dari permaisuri Puteri Sinar Alam dari Keratuan Pugung, beliau menurunkan Syarif Muhammad Aji Saka atau Ratu Darah Putih yang menjadi tokoh di tanah Lampung.
Pengungkapan susur galur genealogy yang berharga ini ditulis oleh Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D—Ketua Pengetua Institusi Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara sekaligus Yang Dipertuan Semende Darussalam dari Trah Keratuan Djagat Besemah yang kini berdomisili di Banda Aceh, Aceh Darussalam.
Inisiatif dan karya penulisan silsilah bangsa ini mendapat apresiasi setinggi-tingginya dari Radja Negeri Daya Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam, DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah. Melalui Wazir Katibul Muluk Kerajaan Negeri Daya, Dato’ Dr. (C) Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd., disampaikan pernyataan apresiasi yang luar biasa kepada Dato’ Kiam Radja Fekri Juliansyah atas kontribusi pemikirannya yang sangat menginspirasi. Wazir Katibul Muluk menegaskan bahwa karya penulisan ini perlu didukung penuh sebagai bagian dari upaya pengkajian dan pelestarian sejarah kekerabatan bangsa.
Mengkaji silsilah dan susur galur para leluhur seperti yang menghubungkan Samudera Pasai, Melaka, Demak, Cirebon, hingga Semende bukan sekadar perkara romantisme masa lalu atau membanggakan garis keturunan semata. Lebih dari itu, kesadaran sejarah ini memanggil segenap anak bangsa di seluruh pelosok Nusantara untuk menyadari bahwa kita semua sebenarnya terikat dalam satu simpul persaudaraan yang saling menopang. Memahami sejarah adalah benteng utama untuk menjaga identitas, memperkokoh persatuan, serta melestarikan warisan peradaban bangsa agar tidak tergerus oleh arus zaman.
* 𝙋𝙚𝙣𝙪𝙡𝙞𝙨 adalah Ketua Pengetua Institusi Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara.
& Yang Dipertuan Semende Darussalam – Trah Keratuan Djagat Besemah.
Domisili di Banda Aceh – Aceh Darussalam