Pekanbaru, 27 Agustus 2026 — Di kala sang surya baru saja menyapa dan embun pagi belum sepenuhnya mengering, kabar duka membalut Nusantara. KDYMM Paduka Sri Sultan Assayidis Syarif Nazir Abdul Jalil Syaifuddin, Sultan Siak Sri Inderapura XIII, menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 08.00 WIB.
Tidak ada irisan sirine protokol Kerajaan yang megah atau pengawalan mewah mengiringi detik-detik akhirnya. Sang Sultan berpulang dalam ketenangan yang sangat manusiawi: saat sedang melakukan aktivitas harian sederhananya, berolahraga pagi jogging . Sebuah akhir yang merakyat dari sosok pemimpin yang sepanjang hidupnya menolak tampil megah di atas penderita rakyatnya.
Mahkota Emas dalam Balutan Kesederhanaan
Lahir dari garis keturunan mulia—putera Tengku Zainur Rasyid hingga bersambung ke Sultan Syarif Kasim I—almarhum merupakan pemangku adat yang bertolak belakang dengan kesan mewah istana. Sejak ditabalkan pada tanggal 14 Mei 2022 (13 Syawal 1443 H), Sultan Siak XIII memikul amanah agung untuk mengembalikan marwah Kesultanan Siak Sri Inderapura.
Ketua Umum Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara, YAM. Dato’ Kiam Radja TG.Prof.DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D, mengisahkan betapa besarnya penemuan penemuan tersebut. Di balik gelar kebesarannya yang menjulang, almarhum berjuang mengawal kehormatan tradisi dalam kondisi ekonomi yang sangat pas-pasan. Keterbatasan materi tak pernah menyurutkan langkahnya untuk terus merangkul berbagai pihak, merawat adat, dan menyuarakan kebenaran.
Benteng Terakhir Hak Ulayat dan Budaya
Perjuangan gigih almarhum mendapat tempat mendalam di hati para raja dan sultan se-Nusantara. Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam sekaligus Raja Kerajaan Negeri Daya, KDYMM Paduka Sri Baginda Sultan Syaifullah Alaiddin Riayat Syah, mengenang sosoknya sebagai raja tangguh yang konsisten membela tanah ulayat dan hak-hak komunal masyarakat adat.
Dari ruang-ruang diskusi hingga langkah kaki saat menghadiri Kirab Budaya dan Sarasehan Diraja Nusantara di Blitar pada tahun 2025, hadirnya selalu memancarkan kehangatan. Beliau mengajarkan bahwa martabat seorang pemimpin tidak diukur dari kemewahan takhtanya, melainkan dari seberapa tulus hatinya memperjuangkan hak-hak rakyat kecil.
Kini, sang pejuang yang merakyat itu telah mengakhiri langkah fisiknya di dunia, meninggalkan jejak keteladanan yang akan terus menyala. Doa yang mendalam membumbung tinggi, mengiringi kehadiran sosok bersahaja yang membuktikan bahwa kehormatan sejati lahir dari ketulusan dan pengabdian tanpa batas.